IJALISME

Walau Patah Sayap Rajawali Bertongkat Juga Aku ke Sini

MEMANDANG BOLLYWOOD

    Pernahkah anda mendengar nama Lakshmi Mittal??? Saya pikir tidak masalah jika anda menjawab tidak kenal. Meskipun nama awalnya Lakshmi yang jelas dia bukan perempuan. Dia bukan artis Bollywood yang anda kenal seperti Shah Rukh Khan, Amitabh Baachan atau Aamir Khan yang dikenal diseluruh dunia berkat kesuksesan Filmnya ”Laagan” masuk nominasi oscar untuk kategori film asing terbaik.  Tetapi dia merupakan bintang dari segala bintang dalam bidangnya.

            Majalah Forbes dari Amerika Serikat tahun 2005 menobatkannya sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan 25 milyar US dolar (250 trilyun rupiah atau lebih dari separuh dari anggaran belanja tahunan RI), menyusul di belakang nama yang sudah lebih terkenal yaitu Warren Buffet di tempat ke dua dan Bill Gates di urutan pertama. Cerita tentang Lakshmi Mittal ini (pemilik jaringan pabrik baja terbesar di planet bumi) menandai naik daunnya pengusaha India setelah sebelumnya banyak profesional India yang sukses berkiprah di berbagai perusahaan kelas dunia.

            Ada contoh lain?? Ajay Banja siapa ini?? Saudara Ajay Devgan??? Salah besar anda. Dia adalah  bussinesman . Dia memulai karir di Nestle India di mana salah satu tugasnya adalah setiap hari bangun jam 4 pagi untuk mengambil susu dari peternakan-peternakan di dekat pabrik. Lalu dia pindah ke jaringan restoran Pepsi Co. sebelum akhirnya bergabung dengan Citigroup (induk dari Citibank) di tahun 1996. Ajay lalu dipindahkan ke Amerika Serikat tahun 2000 dan menjadi Presiden divisi retail banking Amerika Utara hanya dalam waktu dua tahun setelahnya. Baru-baru ini dia dipromosi menjadi Co-director untuk global retail banking group bersama dengan Steven Freiberg; posisi ini adalah posisi nomor dua di Citigroup (perusahaan dengan asset 1,5 trilyun dolar). Untuk Indonesia yang baru saya tahu Cuma B.J Habiebie  sukses di negeri asing yaitu menempati posisi sebagai wakil presiaden pada Badan Antariksa dan Penerbangan Jerman dan merupakan posisi yang tertinggi untuk orang asing di negeri Jerman. Kalau putra Riau saya belum melihat yang sukses dinegeri asing tapi untuk Indonesia baru dua orang yakni mantan mendagri era B.J Habiebie dan mantan Ketua BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) yaitu Letjend (Purn.) Syarwan Hamid (orang siak) dan  Jali Ahimsa (oyang bagan).

            Kalau di Indonesia kita belum terbiasa melihat anak Riau sukses. Tapi kita semakin terbiasa menyaksikan wajah-wajah India menduduki posisi penting di luar negaranya. Entah sebagai bankir, eksekutif, ilmuwan, penulis, wartawan atau reporter, pemikir, dokter termasuk para bintang film dan sutradaranya terus menerus memperoleh pengakuan dari dunia. Belum terhitung banyaknya orang yang bekerja di industri IT (Information Technology) yang sudah menjadi trademark (merk dagang yang terkenal) orang India. Lulusan India Institute of Technology (IIT) yang tersebar di tujuh kota di India dan juga India Institute of Management (IIM) tak pernah risau dengan prospek sebagai penganggur dan malah lebih asyik berkutat memilih pekerjaan mana yang akan mereka ambil setelah lulus nantinya.

            Deret kesuksesan ini dapat terus diperpanjang namun pertanyaan yang harus segera kita ajukan kepada diri sendiri adalah apakah yang membuat mereka berhasil dan mengapa anak Riau tidak dapat melakukan hal yang sama? Mengapa? Apakah anak Riau tidak cukup pintar?

Sungguh sebuah pertanyaan yang menggoda. Namun sayangnya pertanyaan ini tidaklah relevan dan bahkan menyesatkan. India merupakan negara dengan populasi nomor dua terbanyak di dunia sedangkan Riau merupakan bagian dari negara dengan populasi nomor empat terbanyak di dunia. Alasan utama di belakang kesuksesan pengusaha dan professional India adalah mereka lebih berani (assertive), atau lebih pandai bicara, daripada orang-orang Asia lainnya. Hal ini mungkin dikarenakan karena kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris yang secara langsung maupun tidak langsung menumbuhkan kepercayaan diri yang kuat. Kebanyakan orang mengabaikan pentingya watak percaya diri dan berani (self confident and assertiveness) namun dua kepribadian ini memainkan peranan penting untuk memenangkan pentas persaingan       di          dunia    Internasional.  

Jika kita melihat Riau yang katanya pada tahun 2020 akan menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara kelihatannya belum mampu berbuat apa-apa. Kita lihat banyak perusahaan besar yang ada di Riau tapi akan sangat sulit melihat Putra Riau yang menempati posisi penting atau menjadi pengusaha yang punya perusahaan yang mampu mengurangi angka kemiskinan di Riau. Sudah bukan rahasia lagi Riau punya sumber daya alam yang melimpah tapi rakyatnya banyak hidup susah. Tapi jika Putra Riau mampu berbuat banyak dalam  mengelola kekayaan  alam yang melimpah ini bukan tidak mungkin di Riau akan lahir banyak Mittal-Mittal yang baru yang tentunya dengan spesifikasi yang berbeda pula.

Sebenarnya banyak potensi Riau yang belum digali oleh putra-putri terbaiknya di mana di Riau ini berdiri 4 Universitas yang sebenarnya mampu berinovasi jika benar – benar menerapkan konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi. Minimal apa yang kita lakukan dikampus apakah  benar-benar produktif bila kita terjun ke masyarakat dan Rasulullah pernah bersabda sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Jangan menjadi manusia Ks3+1 (Kampus,Kos,Kakus,kantin) yang hanya membebani masyarakat. Yang jelas masih ada waktu kita untuk bergerak lebih maju untuk mewujudkannya asal tidak ada dusta diantara kita. Sebelum ditutup satu prtanyaan yang muncul apakah kita PD???? Tentu jawabannya anda yang tahu …. SUUUUaiiii.

Mei 10, 2007 - Posted by | tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: