IJALISME

Walau Patah Sayap Rajawali Bertongkat Juga Aku ke Sini

MENDEFENISIKAN SEBUAH CINTA

Dalam kehidupan sehari-hari selaku pembaca yang baik pasti mengenal tokoh Fahri yang baik dalam novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta, selanjutnya anda juga mengenal tokoh Hanafi dalam roman “jadul” Abdul Muis dengan Salah Asuhan. Tema yang diambil dari kedua roman ini sama yakni “cinta”namun terdapat banyak prasangka yang timbul dari kedua roman ini.

Pembaca yang baik, apa pendapat anda tentang paparan di atas?  Ternyata sesuatu yang persis sama dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda tergantung pada posisi dan kepentingan kita. Bahkan baik buruknya suatu peristiwa sangat tergantung kepada terganggu tidaknya kepentingan kita. Memang inilah yang selalu yang kita hadapi kalau dalam ilmu filsafat Tao Te Ching kehidupan ini harus ada keseimbangan antar Yin dan Yan.

Perubahan yang besar, revolusioner dan menakjubkan akan terjadi ketika kita mampu melihat suatu masalah dari sudut pandang orang lain, terutama dari sudut pandang dengan pihak yang yang berseberangan dengan kita. Inilah defenisi sebuah cinta. Cinta adalah  kemampuan kita melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain bahkan menghayati suasana kehidupan orang lain. Dalam Novel ayat-ayat cinta defenisi ini dengan baik diperankan oleh seorang Maria sang gadis koptik yang begitu menghayati tetangganya yang soleh dan baik hati. Defenisi ini sangat sederhana tetapi jika dilaksanaka akan terasa sulit. Karena cinta berhubungan dengan ego yang lahir dari diri kita. Kita sering menganggap penderitaan kita sebagai permasalahan terpenting di dunia. Benarkah??? Andalah yang tahu jawabannya.

Kita harus menyadari kecenderungan kita yang selalu mengganggap masalah kita sendiri sebagai masalah yang terpenting. Hal ini tidak akan melahirkan sebuah cinta. Dalam Salah asuhan Hanafi selalu mengganggap sesuatu dengan kepribadiannya yang sudah melupakan bangsanya sendiri yakni cinta terhadap budaya minang yang telah membesarkannya. Cinta hanya dapat lahir dari kesadaran bahwa masalah yang dihadapi orang lain juga amat sangat penting. Kita harus mampu merasakan, menyelami dan menghayati situasi orang lain. Kemampuan inilah yang disebut dengan cinta.

Jika ada memiliki masalah dengan seseorang, coba bayangkan  diri kita berada pada diri orang tersebut. Pasti kita akan menemukan berbagai kejutan yang mencerahkan. Suatu pekerjaan yang sangat sederhana bagi kita. Dengan melihat masalah dengan berbagai sudut pandang maka kita akan lebih menghargai, memaafkan dan mencintai. Melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain, kita akan senantiasa diliputi perasaan rasa cinta dan belas kasih yang tak pernah putus. Kita juga akan merasakan bahwa sesungguhnya kita adalah SATU dari segi morfologis, psikis, dan genetis. Kita benar-benar dalam satu keatuan, inilah yang disebut dengan cinta dan inilah hakikat dari spritualitas.

Dalam ayat-ayat cinta kita bisa menghayati bahwa penghargaan terhadap diri dan hakikat orang lain adalah sumber energi yang menghasilkan suatu kekuatan yang bernama cinta. Cinta bukanlah hakikat  penghargaan terhadap kehidupan pribadi sperti cinta semu yang disajikan dalam kehidupan sinetron dan film yang tersaji dalam media sehari-hari.

Sebelum tulisan ini tertutup ada baiknya kita menghayati sebuah cerita seorang anak yang miskin yang hanya memiliki seorang sahabat (maaf bukan sinetron). Ia sering diejak dan dihina oleh teman-teman lainnya. Suatu  hari menjelang ulang tahun anak miskin itu, sahabatnya membayangkan betapa hari itu menjadi hari yang menyedihkan bagi si miskin. Bayangkan tidak ada orang yang ,mengucapkan selamat ulang tahun, tak ada kue ulang tahun, tak ada hadiah, dan tak ada yang peduli. Oleh karena itu sang sahabat menceritakan pada ibunya dan ia berharap sang ibu dapat menolong si anak miskin di hari jadinya.

Akhir cerita, di hari yang berbahagia itu sang ibu membuat suatu kejutan. Ia muncul di pintu depan kelas anaknya sambil membawakn kue dengan lilin yang menyala, menyanyikan lagu ulang tahun dan mendoakan  kemudian menyalami si anak miskin itu yang tertegun meneteskan air mata menyaksikan kejutan yang datang tersebut. Berpuluh tahun kemudian peristiwa ini dikenang sahabatnya sebagai salah satu peristiwa yang paling indah dalam hidupnya. Ia pun berkata, ”aku hampir tak bisa mengingat lagi nama-nama temanku yang ikut merayakan ulang tahun itu. Aku pun tak tahu temanku yang berasal dari keluarga miskin itu sekarang berada. Tapi setiap aku mendengar lagu dan doa yang kukenal itu, aku ingat hari itu, saat nada-nadanya berbunyi sangat indah, saat doa-doa dilantunkan dengan menyayat hati: di dalam suara seorang wanita bernama IBU mengalun dengan lembut, cahaya di dalam mata seorang anak laki-laki dan kue yang paling manis.

 

12 Mei 2007 pukul 07:05 pagi

Special thanks tu’ rekan-rekan BEM yang belum dan sudah-Milad  

Mei 12, 2007 - Posted by | tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: