IJALISME

Walau Patah Sayap Rajawali Bertongkat Juga Aku ke Sini

Beri Insinyur Wadah untuk Berinovasi

         Di industri engineering, nama Triharyo Soesilo atau yang akrab dipanggil ” Henki “, dikenal sebagai sosok revolusioner. Hal itu mulai terlihat ketika tahun 1981 dia memutuskan untuk mengambil gelar Master di Amerika dengan bidang ilmu process simulation, sebuah cara untuk merancang pabrik dengan menggunakan komputer. Padahal, saat itu komputer masih dianggap benda asing bagi masyarakat Indonesia, bahkan IBM Personal Computer (PC) saja baru diciptakan tahun itu. Namun, pria jebolan Teknik Kimia ITB ini yakin jika orang Indonesia bisa merancang pabrik menggunakan PC, pasti bisa murah dan efektif. Tiga tahun kemudian, Henki membawa software yang dibuatnya selama menimba ilmu di University of Arizona ke PT Rekayasa Industri, perusahaantempatnya merintis karir.

Kegigihannya dalam mengembangkan perusahaan, mendorong PT Rekayasa Industri untuk mempercayakan pembangunan pabrik pupuk Kaltim-3 di Bontang tahun 1988 ke tangan Henki, disusul proyek pabrik pupuk Sriwijaya 1B (Pusri-1B) tahun 1990. Proyek Pusri-1B sempat terancam gagal ketika perusahaan pupuk Urea di Bangladesh yang juga menggunakan lisensi proses yang sama dengan yang digunakan oleh Pusri -1B, meledak dengan puluhan orang meninggal di ruang pengendali. Namun, Henki berhasil meyakinkan Menteri Perindustrian Ir. Hartarto, bahwa proyek tersebut tidak perlu dibatalkan hanya fabrikasi peralatannya yang harus diperketat. Meski bekerja dibawah bayang-bayang keamanan, Henki berhasil memimpin pembangunan proyek Pusri-1B. Atas kerja kerasnya tersebut, Henki meraih PII engineering Award dari Dirjen Industri Kimia Dasar dan Badan Kejuruan Persatuan Insinyur Indonesia (BKK-PII) tahun 1994.

          Gembira sekaligus sedih, dirasakan oleh pria yang hobi nge-blog ini. Pasalnya, PT Rekayasa Industri sebagai pengembang proyek Pusri -1B mengalami bangkrut. Penyebabnya adalah biaya proyek Pusri-1B melebihi nilai kontrak yang telah ditetapkan. Akhirnya, perusahaan itu masuk kedalam perusahaan sakit di Departemen Perindustrian. Di tengah kondisi seperti itu, Henki memutuskan untuk melanjutkan S3 di AS. Namun, rupanya PT Rekayasa Industri belum siap ditinggalkannya, akhirnya dia memutuskan untuk tetap di perusahaan itu dan memperbaikinya. Selanjutnya, tahun 1995 Henki melakukan revolusi kegiatan engineering secara total dari mulai mengubah sistem SDM, penerapan ISO 9001 hingga penerapan teknologi informasi secara maksimal.

          Dalam penerapan teknologi informasi di PT Rekayasa Industri, Henki mengaku selalu mengadaptasi teknologi terbaru. Menurutnya, setiap perkembangan teknologi harus diikuti semaksimal mungkin. Jika tidak, maka orang lain yang akan memanfaatkannya dan kita kalah bersaing, katanya.

           Sukses menyelamatkan PT Rekayasa Industri, Henki menangani sejumlah proyek-proyek besar lainnya seperti proyek Optimisasi Kaltim (Popka), proyek Ammonia-Urea Pupuk Iskandar Muda (PIM-2) dan proyek Blue sky Balongan. Mulai tahun 2004, Henki menjabat sebagai Presiden Direktur PT Rekayasa Industri.

          Dalam salah satu blognya, Henki menyatakan bahwa setelah 25 tahun bekerja, ia baru menyadari bahwa keterpurukan bangsa ini disebabkan oleh insinyur-insinyur Indonesia yang kurang berkarya dan memberikan solusi kepada bangsanya.

Seperti apa harapannya terhadap insinyur muda Indonesia? simak wawancara singkat redaksi dengannya beberapa waktu lalu.

Banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak siap pakai, entah dari sisi mental maupun kurikulumnya. Bagaimana jalan keluarnya menurut Anda ?

Ada dua paralel, satu insinyur inovasi, satu pengembangan korporasi wadah tempat insiyur berinovasi. Sebagai contoh, di PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Pak Habibi itu tidak kurang berinovasi, tetapi disisi lain korporasinya tidak diurus. Coba lihat perusahaan lainnya, ada yang mengurus korporasinya, ada yang mengurus inovasinya. Di industri pupuk insinyur teknik kimia mendominasi, di industri kimia teknik kimia menguasai, di industri listrik insinyur elektro menguasai, insinyur sipil mendominasi di karya-karya. Tapi pernah nggak memperhatikan ada insinyur mesin yang menjadi direktur Honda atau Astra atau apa gitu? nggak ada! atau insinyur mesin menguasai manajemen Garuda atau perusahaan-perusahaan penerbangan ? Nggak ada insinyur mesin menguasai jabatan manajemen di kereta api. Akibatnya apa? kereta jatuh kereta anjlok. Industri mobil itu dibuat oleh Toyota untuk menjual produk mobil, akibatnya insinyur tidak diberi wadah untuk berinovasi karena ownernya sendiri tidak ingin mereka berinovasi.

Siapa yang harus menyiapkan wadah untuk insiyur berinovasi ?

Wadah yang menyiapkan ada beberapa. Pertama, existing industry yang sudah ada lebih bagus. Misalnya untuk mobil, jangan Astra lah, tapi existing industry yang dulu pernah dipikirkan misalnya Maleo dari BPPT. Kalau belum ada ya bikin. Tapi kalau seperti pembangkit listrik tenaga nuklir nggak bakal jadi-jadi lah, karena nggak ada korporasinya mau ada seribu orang tenaga ahli juga, kecuali kalau dibuat perusahaan atau pemerintah menugaskan PLN untuk membuat anak perusahaan nuklir. Wadah tersebut tidak harus swasta, industri juga bisa. Tapi industri biasanya suka melihat profit atau nggaknya.

Kadang-kadang nunggu pemerintah lama sedangkan industri juga melihat dulu profitabilitasnya. Bagaimana dengan entrepreneurship ?

Ada suatu model dimana insiyur-insinyur ITB berkumpul sekitar 60 orang menyimpan uang 5 juta perak, 10 juta perak kadang ada yang 50 juta perak, bikin pabrik biodesel, bikin teknologi Indonesia. Kita kembangkan terus agar orang bisa duplicated, bisa ditiru gitu. Sekarang itu kan banyak tuh yang insinyur-insinyur yang kerja di minyak-minyak, uangnya pasti milyaran kan. Tapi kalau kita tanya, anda ingin nggak punya pabrik kalau dengan 50 juta anda ? 100 juta orang naruh. Sebenarnya hal itu sudah ada dikepala banyak orang, cuma keberanian aja.

Bagaimana dengan peran Perguruan Tinggi ?

Mereka harus memberikan studi yang bagus, teknologi yang benar-benar bagus, jangan ngaco. Seperti teknologi yang dikembangkan oleh para insinyur ITB tersebut, ini yang terbaik. Dari sekian karya ITB hanya satu dari lab yang digunakan untuk industri. Ini model yang bisa didevelop Indonesia tanpa pemerintah atau swasta tapi dari kalangan profesi sendiri.

Apa kunci sukses menurut Anda ?

Dalam sebuah diskusi antara 60 orang insinyur ITB dalam sebuah blog, diketahui bahwa hampir semua pimpinan perusahaan yang mencapai jenjang pimpinan perusahaan sangat menyayangi anak dan istrinya atau suaminya. Jadi, familynya kuat. Kedua, semua yang lulus dari ITB dan mencapai jenjang tertinggi pasti memiliki obsesi.Obsesinya bukan untuk kerja dan cari uang karena yang seperti itu biasanya lompat-lompat. Ketiga, dalam memilih pekerjaan tidak asal pilih. Ada vision disitu.

Obsesi Anda sendiri apa ?

Cita-cita saya kalau tidak ada tugas dari negara, saya ingin sharing pengalaman saya ke teman-teman, mungkin menjadi pengajar. Banyak sekali yang harus diceritakan kepada para engineer agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Sebagai contoh saja, tahun 1981 insitusi Indonesia sudah bikin pesawat terbang. Tahun 2007, pembangkit listrik tenaga uap semuanya dari Cina.

Juni 15, 2007 - Posted by | Tak Berkategori

1 Komentar »

  1. saya punya sebuah penemuan yg perlu penyempurnaan sang ahli, untuk itu kami mengajak kerjasama para insinyur mewujudkan inovasi tersebut menjadi sebuah karya yg lebih baik lagi.ini original belum pernah ada di negara manapun di dunia ini.atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih

    Komentar oleh budi ismail {Bisma} | Mei 6, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: