IJALISME

Walau Patah Sayap Rajawali Bertongkat Juga Aku ke Sini

Konversi atau Mati

Kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai 90 dollar perbarel mengingatkan pada sejarah zaman “oil Bonanza” diera 70-an. Pada masa keemasan itu minyak menjadi sumber pemasukan utama bagi devisa Negara. Berbagai industri dibangun melalui uang minyak ini antara lain kita kenal pabrik baja Kratakatau Steel, pabrik Pupuk dan pabrik milik BUMN lainnya. Dengan minyak bumi ini pemerintah seolah mendapat durian runtuh dalam membangun Negara. sehingga pemerintah mulai terasa gatal untuk dengan memberikan subsidi bahan bakar Minyak kepada rakyat.

Namun belakangan kebijakan ini memberikan akibat yang sangat buruk bagi pemerintah. Dengan anggaran yang terbatas dan cenderung defisit pemerintah terpaksa mulai mengurangi subsidi BBM perlahan-lahan dari tahun ke tahun. Dengan adanya pengurangan subsidi ini terjadi kenaikan harga BBM hampir setiap tahun. Akibtanya berdampak langsung ke masyarakat bawah.

Kenaikan harga BBM dari tahun ke tahun, dari periode pemerintahan ke pemerintahan berikutnya selalu menimbulkan kontroversi. Betapa tidak, dampak naiknya harga BBM ini langsung dirasakan masyarakat bawah. Harga sembako menjadi naik dan tariff jasa ikut melambung tinggi. Rakyat kecil pun dibuat pusing tujuh keliling.

Keputusan seorang kepala pemerintahan untuk menaikkan harga BBM dalam negeri ini menjadi amat dilematis. Pemerintah Negara manapun akan sulit mengambil keputusan seperti ini. Tapi jika harga BBM tidak dinaikkan pemerintah akan mengalami kesulitan dalam pembangunan. Hal ini karena Subsidi bahan bakar minyak di Indonesia merupakan tertinggi di Dunia yakni sepertiga dari APBN. Sedangkan jika dinaikkan pemerintah akan menuai badai kritik, kecaman dan protes dari berbagai sisi, yang bisa berlanjut pada pertaruhan jabatan. Setiap orang akan tahu setuju ataupun tidak lambat laun harga BBM tinggal menunggu waktu untuk naik.

Alasan kenaikan harga minyak

Kenapa harga BBM negeri ini selalu naik? Pertanyaan ini seringkali terbetik dalam benak kebanyakan masyarakat kita. Pertanyaan ini mirip iklan rokok “Kapan kawin???” dan sepertinya jawaban kedua pertanyaan ini tidak pernah tuntas untuk dijawab.

Dalam rumusan ilmu ekonomi menyatakan bahwa harga permintaan ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran pasar. Namun hukun ini tidak berlaku bagi harga BBM. BBM memiliki nilai strategis yang cukup tinggi, sehingga setiap pemerintah tidak lepas tangan dan harus campur tangan dalam penetapan harganya. Masing-masing Negara mempunyai alasan yang berbeda dalam menentukan harga BBM dalam negerinya. Untuk Negara maju penentuan harga ditentukan berdasarkan pertimbangan ekonomi dan kelestian lingkungan hidup. Sedangkan bagi Negara-negara berkembang seperti Indonesia alasan sosial politik lebih dikedepankan.

Secara umum ada empat alasan ekonomi tentang kenaikan harga BBM ini. Pertama, untuk menaikkan pendapatan Negara karena subsidi memberatkan APBN. Kedua, untuk melindungi industri dalam negeri dalam rangka berkompetisi dangan produk dari luar negeri terutama serbuan produk murah dari Negara Cina. Ketiga, untuk mendukung dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri di arena perdagangan internasional. Keempat, untuk menyesuaikan harga dengan perkembangan harga minyak dunia karena sepertiga dari kebutuhan BBM di impor dari luar negeri.

Alasan sosial politik yang berkaitan dangan kenaikan harga BBM ini terdapat tiga alasan. Pertama, untuk mengurangi polusi. Artinya dengan adanya kenaikan harga ini dapat mengurangi angka pemakaian kenderaan bermotor, sehingga mengurangi tingkat polusi dan mendorong pemakaian energi alternatif. Selain itu kelebihan pendapatan negara dapat diperoleh dengan mengolah minyak dengan kualitas yang lebih baik misalnya minyak tanah yang dipakai untuk keperluan rumah tangga diolah menjadi avtur yang dijadikan sebagai bahan bakar pesawat terbang. Kedua, untuk melindungi masyarakat yang berpendapatan rendah. Artinya setiap akan menaikkan BBM harus memperhatikan akibat yang ditimbulkan. Ketiga, berdasarkan pertimbangan keadaan politik yang berkembang. Dengan alasan seperti ini sangat wajar ketika menetapkan harga BBM banyak rakyat kecil yang protes.

Konversi minyak ke gas

Rumput tetangga lebih hijau dari rumput dihalaman sendiri. Pepatah melayu ini sudah cukup untuk menggambarkan kondisi kebutuhan bahan bakar di di negeri ini. Rasa nyaman menikmati bahan bakar murah dengan subsidi selama ini telah meninabobokan kita. Kita menjadi boros dalam pemakaian bahan bakar. Kita merasa nikmat dengan perilaku ini karena harga bahan bakar minyak murah. Namun kita tersentak dengan tiba-tiba dengan meroketnya harga minyak dunia. Dengan harga minyak yang tinggi berarti pemerintah harus merogoh saku lebih dalam karena sepertiga dari kebutuhan minyak untuk bahan bakar indonesia harus di impor dari luar negeri. Celakanya minyak yang diimpor bukan minyak mentah tetapi yang dimpor adalah minyak olahan dengan kualitas tinggi. Sebagai contoh minyak tanah untuk kebutuhan memasak di impor dengan kualitas setara dengan avtur. Bisa dikatakan hampir tidak ada negara di muka bumi ini membakar avtur untuk keperluan memasak kecuali indonesia.

Keinginan pemerintah untuk mengkonversi salah satu bahan bakar ke gas adalah merupakan langkah yang tepat untuk tidak membakar uang untuk keperluan susbsidi BBM. Mengingat negeri ini merupakan salah satu negara penghasil gas utama di samping Qatar dan Russia. Cadangan bahan bakar ini lebih banyak dari cadangan minyak bumi, cadangan minyak bumi hanya 16 tahun jika tidak ada perkembangan teknologi penambangan. Sedangkan cadangan yang tersedia untuk gas alam adalah 189 TCF (triliun cubic feet/ triliun kaki kubik) artinya masih ada waktu 62 tahun. Dengan cadangan inilah pemerintah mulai menggerakkan program konversi minyak ke gas elpiji 3 kilogram untuk keperluan rumah tangga.

Namun keinginan ini bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan mengingat program ini yang mengubah tradisi penggunaan bahan bakar. Akibat yang yang timbul dari program ini adalah berkurangnya pasokan bahan bakar minyak di tingkat masyarakat kecil sehingga antrian terjadi dari untuk keperluan rumah tangga hingga keperluan transportasi. Kejadian ini menjadi berita hangat di berbagai media massa. Foto-foto tentang antrian ini menjadi headline terus bermunculan berbagai opini lahir dengan berbagai analisanya. Tayangan di televisi pun tidak berhenti menyajikan masalah ini. Seolah-olah pemerintah telah gagal.

Memang program ini tidaklah mudah untuk direalisasikan, puluhan tahun masyarakat kita di sudah dimanja dengan kata subsidi. Kemudahan-kemudahan itu tanpa terasa telah melenakan bangsa ini. Kita tidak menyadari, betapa besar energi yang tidak terbarukan terbuang sia-sia, betapa banyak anggaran negara yang hangus terbakar lewat kata sakti ”subsidi”. Padahal, subsidi tentu akan lebih bermanfaat bila dipakai untuk keperluan yang lain misalnya untuk pendidikan, kesehatan dan pangan.

Tapi sekali lagi, program ini konversi ini tidak semudah membalik telapak tangan. Konversi ini berhubungan dengan mengubah kebiasaan, mengubah budaya, dan mengubah pola pikir (mind set). Seperti apa yang dikatakan pakar perubahan tentang konsep gunung es bahwa perubahan mindset dan budaya itu ibarat gunung es yang tak terlihat di bawah permukaan air. Besar dan kokoh dalam arti memiliki resistensi kuat namun tidak terlihat di permukaan. Namun demi keberlangsungan negeri ini konversi ke gas merupakan hal harus dilaksanakan.

November 1, 2007 - Posted by | 1

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: