IJALISME

Walau Patah Sayap Rajawali Bertongkat Juga Aku ke Sini

Langgak Menunggu Riau.

Tulisan Deliarnov mengenai blok langgak di Harian Riau Pos, Rabu (28/1/2009), sangat menarik. Tulisan itu menjelaskan adanya tarik ulur mengenai pengelolaan Blok Langgak yang telah habis masa kontraknya empat tahun yang lalu dari PT CPI. Namun hingga sampai saat ini belum juga bisa dikelola leh Riau, Padahal Riau diberi kesempatan oleh pemerintah pusat melalui Mentri ESDM untuk mengelola blok yang mulai terhitung sudah tua ini. Berbagai pertanyaan dan isu muncul seputar blok langgak ini dari ketidakrelaan CPI melepas hingga belum sanggupnya Riau mengelola, sehingga pengelolaan Blok ini terus diperpanjang pada tahun 2009 ini.
Padahal jika dipandang sudut ekonomis dan teknis pengelolaan blok langgak bisa menjadi tonggak Riau untuk menjadi pemain dalam industri migas national. Menurut data yang diperoleh penulis blok ini terus mengalami penurunan produksi sejak tahun 1992 hingga tahun 2004 yakni dari 1.973 BPOD (barrel perhari) menurun menjadi 438 BPOD. Meskipun mengalami penurunan secara alami namun blok ini tetap manjadi peluang untuk putra terbaik Riau untuk membuktikan pada pusat. Namun jika tidak diambil peluang emas ini bukan tidak mungkin Langgak hanya menjadi bagian sejarah perminyakan Indonesia, mengingat menurut perhitungan penulis sumur ini jika tidak dikelola dengan baik diprediksi berproduksi hanya tinggal 11 ke depan alias pada tahun 2020. Bukan tidak mungkin lebih cepat yang diperkirakan, sebab sumur minyak itu bagai memelihara seorang bayi. Jika dirawat maka akan berusia panjang jika tidak tidak dirawat maka akan sakit dan akhirnya mati.
Problem utama pengelolaan blok ini adalah dana investasi, sumber daya manusia dan teknologi. Sumber dana sebenarnya dapat dicari dari mana saja, tetapi jika tidak ada dana alokasi khusus untuk ini maka sampai kapan pun daerah ini akan bergantung pada investasi asing. Sumber daya manusia dan teknologi sebenarnya mungkin menjadi alasan belum sanggupnya Riau mengelola blok ini, tapi dengan melihat perusahaan daerah yang lain di provinsi ini dalam hal mengelola migas menurut penulis tidak ada masalah. Hanya saja tinggal komitmen yang kuat untuk mendorong daerah ini untuk mandiri mengelola kekayaan alamnya dari investor asing. Di sisi lain peluang ini sebenarnya memberi peluang untuk mengokohkan tumbuhnya perusahaan daerah untuk berkembang menjadi besar sehingga mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional. Berkaca dari pengalaman MEDCO dalam mengelola sumur minyak dimulai dari sumur minyak tua di Tarakan peninggalan Belanda dan sekarang terbukti MEDCO mampu bersaing di kancah industri perminyakan dunia, bahkan saat ini MEDCO memiliki sumur minyak di lepas pantai Amerika yang merupakan Negara adidaya tempat berawalnya sejarah perminyakan modern.
Mungkin jika mengambil contoh MEDCO sebagai contoh pengelolaan sumur tua terlalu wah. Nah bagaimana Jika kita mau berkaca pada penambangan rakyat di Sumatera Selatan dan Cepu Jawa Tengah? maka Riau secara de facto mampu mengelolanya. Penambangan rakyat yang dilakukan tersebut mengelola sumur minyak tua peninggalan Belanda yang sudah dianggap tidak berproduksi dan dikelola secara tradsional tanpa fasilitas yang lengkap seperti Blok Langgak. Hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan blok ini ke depan adalah niat dari Pemprov Riau itu sendiri. Meskipun ada peluang untuk mengelola jika tidak ada niat maka tidak akan jadi. Jika Riau memiliki niat untuk mengelola Blok Langgak ini bukan tidak mungkin bisa bekerjasama dengan PT CPI sebagai pengelola terdahulu dan menjadikannya sebagai guru yang baik untuk mengajarkan bagaimana mengelola Blok Langgak ini. Karena infrastruktur produksi minyak bumi telah mereka bangun dan sebagai pengelola setelahnya sebagai murid yang baik kita bisa bantuannya. Hal yang sama telah dilakukan oleh salah satu dari Seven Sisters perminyakan dunia yakni Petronas Malaysia.
Riau tidak perlu menghabiskan energi untuk pertikaian siapa yang layak sebagai operator pengelola Blok Langgak. Dalam kegiatan eksplorasi dan produksi minyak merupakan bentuk salah satu bentuk usaha bisnis yang berorientasi mencari keuntungan. Keuntungan dalam industri minyak merupakan fungsi dari produksi, harga, biaya dan pajak. Oleh karena itu yang harus di fokuskan oleh Riau adalah Sumber Daya yang mengelola Blok itu yakni Modal, Manusia dan Teknologi. Di samping itu perlu diperhatikan dalam pengelolaan blok langgak ini adalah pola pembagian hasil yang oleh Pemerintah Pusat yang dikenal dengan production sharing contract (PSC). Meskipun produksinya lebih kecil dari blok-blok yang lain di daerah ini tapi tetap ada manfaatnya bagi Riau ke depan.
Production Sharing Contract (PSC).
Model pengelolaan ini dikenal dengan Indonesian formula yang mulai diperkenalkan pada tahun 1967, kemudian formula ini berkembang ke seluruh dunia terutama di Negara pecahan Uni Sovyet seperti Azerbaijan, Kazakhstan dan Georgia. Sebelumnya aktivitas perminyakan Indonesia berpedoman pada Indische Minjnwet, hukum pertambangan masa kolonial Belanda. Formula PSC ini dipakai untuk pemerintah membagi hasil keuntungan dengan investor atau pengelola sumur minyak. PSC bukan merupakan produk legislasi, namun secara spesifik dirundingkan antara Pemerintah Pusat dengan perusahaan pengelola lapangan minyak atau investor. Model PSC disiapkan oleh pemerintah pusat kemudian dirundingkan dengan para investor atau pengelola lapangan. Biasanya Struktur PSC sudah terpolakan, yang menyangkut hal-hal rinci seperti profit sharing split, bonus, cost recovery dan lain-lainnya diselesaikan dengan negosiasi. Salah satu ciri dari PSC di Indonesia adalah tidak ada royalti seperti yang diterapkan pada penambangan batu bara.
Model PSC saat ini diatur menurut Undang undang No. 22 tahun 2001, dimana pemilik hidrokarbon (minyak bumi) adalah pemerintah pusat, sementara investor yang tidak memiliki hidrokarbon seolah-olah memperoleh bayaran (fee) atas kerja mereka dalam mengusahakan pengelolaan minyak. Bayaran ini diperoleh dari keuntungan penjualan minyak, pengembalian biaya (cost recovery) dan mekanisme pembagian hasil. Setelah dipotong pajak merupakan bagian kontraktor (investor) bersih, dimana jumlah totalnya sebesar 15% dari keuntungan setelah dikurangi cost recovery, sedangkan bagian 85% merupakan bagian pemerintah pusat, untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri investor diwajibkan memberikan sebagian perolehan minyaknya melalui mekanisme yang disebut Domestic Market Obligation (DMO).
Melihat rumitnya pola pembagian hasil penambangan minyak bumi oleh pemerintah pusat melalui mekanisme PSC yang berbelit-belit dan sedikit rumit maka wajar Riau agak ragu. Mengingat pembagian hasilnya perlu proses negosiasi yang selama ini menjadi momok karena kita selalu kalah dalam hal negosiasi. Untuk itu dalam pengelolaan Blok Langgak ini bukan soal Penunjukkan PD SPR atau PT Riau Petroleum tapi menyangkut kesanggupan Riau menangkap peluang emas proses alih teknologi tinggi pengelolaan ladang minyak, semoga tahun 2010 terwujud.

Februari 4, 2009 - Posted by | 1

3 Komentar »

  1. salam kenal, bang saya pernah membca tulisan anda ttg CSR, klo boleh tahu bagaimana (mekanisme) untuk memanfaatkan dana dr CSR tersebut dan apa yang paling bisa diajak kerjasama dengan corporate tersebut untuk melakukan CSR. mohon pencerahan. saya juga FAM PII DIY namun masih baru

    Komentar oleh johan | Februari 28, 2009 | Balas

  2. Just dropping by.Btw, you website have great content!

    ______________________________
    Who Else Wants To Discover A Rebel Psychiatrist’s Amazing Secret That Lets You Put People Under Your Control Quickly & Easily … and Get Them to Do Anything You Want?

    Komentar oleh Shakyra | Maret 3, 2009 | Balas

  3. Wah Wah Wah..Tulisan yang berbobot bro … Keep blogging. Maju terus Putra Siak….

    Komentar oleh Robby | Maret 27, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: