IJALISME

Walau Patah Sayap Rajawali Bertongkat Juga Aku ke Sini

Cantik itu Relatif

Cantik itu relatif! Jelek itu mutlak! Begitulah perkataan populer yang sering kita dengar atau ucapkan bila membicarakan tentang cantik tidaknya seorang wanita.

Perkataan tersebut menurut hemat saya terbagi dua macam (sedikit ngarang sih). Yang pertama yaitu cantik yang relatif-subyektif. Dan yang kedua yaitu cantik yang relatif-obyektif. Apa bedanya?

Bila saya mengatakan, “Pacar saya cantik!” Anda belum tentu setuju dengan pernyataan saya. Atau bahkan tidak setuju sama sekali. Mungkin bagi Anda pacar saya itu biasa saja, alias tidak cantik. Itulah contoh dari perkataan cantik yang relatif-subyektif. Dikatakan relatif karena tergantung dari sudut mana saya memandang. Dan dikatakan subyektif karena ada pengaruh emosi pribadi yang belum tentu sama dirasakan oleh orang lain.
Bila saya mengatakan, “Zaskia cantik!” Walaupun mulanya bersifat subyektif, tetapi saya yakin (kebanyakan dari) Anda akan setuju dengan pernyataan saya barusan. Walaupun mungkin ada juga yang mengatakan bahwa dia itu biasa saja. Itulah contoh perkataan “cantik yang relatif-obyektif.” Dikatakan relatif karena tergantung dari segi apa kita menilai cantik tidaknya si Zaskia itu. Dan dikatakan obyektif karena kenyataannya memang dia cantik, di mana tak hanya penilaian emosi pribadi saya saja yang mengatakan itu, tetapi kebanyakan orang lainpun menyetujuinya secara jujur tanpa paksaan.

Memang sih bila dipikir-pikir sulit juga membedakan antara cantik yang relatif-subyektif dan cantik yang relatif-obyektif. Karena keduanya memang relatif.

Serupa dengan pembahasan relatif tidaknya kecantikan seorang wanita tadi, dalam matematika pun ada yang mengatakan bahwa permasalahan-permasalahan (soal-soal) matematika itu mempunyai kecantikan tersendiri. Dan kecantikannya itu pun relatif.

Iklan

Februari 8, 2008 Posted by | Blogroll | 3 Komentar